Dewatekno.com – Selangkah Digital Agency kembali menggelar sesi webinar tematik bertajuk “SEO & GEO Strategy for B2B Exporter Industry” pada Jumat (8/5/2026) malam. Sesi ini menjadi seri ketiga webinar tematik SEO Selangkah di tahun 2026 dan dipandu oleh I Putu Febrian Andira Putra selaku Senior SEO Strategist Selangkah Digital Agency.
Webinar malam itu mengupas tiga pokok bahasan, yakni tantangan SEO dan GEO di pasar B2B global, kebutuhan SEO dan GEO website eksportir, serta cara menyusun strategi konten SEO dan GEO untuk target audiens B2B luar negeri.
9 dari 10 Buyer B2B Riset Vendor Lewat Internet
Andi membuka sesi dengan memaparkan data yang menggambarkan betapa digitalnya perilaku buyer B2B global saat ini. Merujuk pada riset Sopro B2B Statistics 2025, ia menyebut bahwa 9 dari 10 buyer B2B mencari vendor secara online sebelum mengambil keputusan.
“Buyer B2B itu secara psikologis mirip dengan kita yang riset dulu sebelum beli HP. Bedanya, skala transaksinya jauh lebih besar dan prosesnya jauh lebih panjang,” ujar Andi.
Ia juga menambahkan data dari G2 Resource 2026 yang menunjukkan bahwa lebih dari separuh buyer B2B global kini menggunakan AI untuk mencari rekomendasi vendor. Mengejutkannya lagi, 7 dari 10 di antaranya bahkan bisa berpindah pilihan vendor setelah melakukan riset di AI, meski sebelumnya sudah memiliki kandidat awal.
“Kalau website kita tidak teroptimasi di AI, peluang kita ditikung kompetitor itu lumayan besar,” tegasnya.
Tiga Masalah Klasik Website Eksportir Indonesia
Andi memetakan tiga tantangan yang paling sering ia temui saat menangani website B2B eksportir. Pertama, bahasa Inggris yang tidak proper. Banyak pelaku ekspor yang mengandalkan terjemahan otomatis tanpa memperhatikan grammar, padahal hal ini turut memengaruhi tingkat kepercayaan buyer asing.
Kedua, konten yang terlalu berorientasi produk. Menurutnya, banyak website eksportir hanya membahas spesifikasi teknis tanpa menjawab pertanyaan yang sebenarnya paling sering muncul di benak buyer, seperti soal MOQ, prosedur impor, sertifikasi, hingga perbandingan Indonesia dengan negara pemasok lain.
“Buyer itu kadang sudah tahu mau beli apa. Yang mereka bingungkan adalah pilih supplier dari negara mana, dan brand mana yang bisa mereka percaya. Konten kita harus bisa menjawab itu,” jelasnya.
Ketiga, inkonsistensi informasi bisnis antar platform. Nama perusahaan, nomor telepon, atau alamat yang berbeda-beda di berbagai kanal akan menyulitkan AI mengenali dan merekomendasikan bisnis tersebut.
“AI itu tidak akan merekomendasikan brand yang pesannya tidak konsisten. Kalau di website bilang produknya premium, tapi di platform lain tiba-tiba menekankan harga murah, AI akan bingung dan cenderung tidak mengutip kita,” kata Andi.
GEO yang Baik Berawal dari SEO yang Baik
Salah satu poin yang Andi tekankan berulang kali sepanjang sesi adalah optimasi untuk AI tidak bisa dibangun tanpa fondasi SEO yang kuat. Ia menyebut prinsip ini sebagai titik awal yang kerap dilewatkan banyak pelaku bisnis.
Bagi website B2B eksportir, elemen yang wajib ada mencakup halaman produk dengan spesifikasi, sertifikasi, dan informasi packaging; halaman about yang informatif tentang legalitas dan kapasitas produksi; serta konsistensi nama, alamat, dan nomor telepon di seluruh platform.
Sementara itu, yang membedakan GEO dari SEO terletak pada beberapa hal, mencakup konsistensi brand positioning di lintas platform, FAQ yang di SEO bersifat opsional namun di GEO hampir menjadi keharusan, serta social proof dan backlink kontekstual.
Sebagai GEO Agency Indonesia untuk B2B, Selangkah sendiri telah menerapkan pendekatan ini pada sejumlah klien eksportir dengan hasil yang terukur.
Konten Harus Ikuti Tiga Fase Perjalanan Buyer
Pada sesi strategi konten, Andi menekankan pentingnya memahami buyer sebelum menyusun artikel, mulai dari industri dan skala bisnis mereka hingga peran pengambil keputusan yang masing-masing memiliki prioritas berbeda.
Ia juga memetakan perjalanan buyer B2B ke dalam tiga fase, yaitu:
- Riset awal mengenai prosedur impor atau sertifikasi.
- Evaluasi dengan membandingkan antar negara atau supplier.
- Keputusan akhir yang sudah sangat spesifik, seperti tentang MOQ atau kapasitas pengiriman.
“Konten kita harus hadir dan relevan di ketiga fase itu. Kalau hanya fokus di satu titik, kita kehilangan peluang di titik-titik lain dalam perjalanan mereka,” ujarnya.
Terkait format penulisan untuk GEO, Andi mengingatkan agar artikel langsung menjawab pertanyaan utama di paragraf pertama tanpa bertele-tele, dan setiap heading membahas satu hal yang spesifik.
Webinar ditutup dengan undangan bagi peserta untuk bergabung ke komunitas Selangkah Collective dan informasi layanan mentorship serta corporate training untuk tim yang ingin mendalami SEO dan GEO lebih lanjut bersama tim Selangkah.
(FHK)***



